Artikel

Cara Menyimpan ASI yang Baik – 2

Posted by on Apr 15, 2015 in Artikel, Bekasi, Blog, Kesehatan, Lokasi | 0 comments

Cara Menyimpan ASI yang Baik – 2

Tempat untuk menyimpan ASI ASI yang disimpan di kulkas atau ASI beku dapat ditempatkan pada: Plastik dengan permukaan keras (seperti botol bayi) atau wadah yang terbuat dari gelas dengan tutup yang rapat. Kantong ASI yang didesain khusus untuk penyimpanan dalam freezer. Catatan: botol susu sekali pakai tidak direkomendasikan untuk dipakai. Bagiamana cara menghangatkan ASI? Rendam atau aliri botol dengan air panas. ASI jangan dipanaskan sampai mendidih Perlahan kocok-kocok ASI sebelum mengukur suhunya. Mengocok secara perlahan juga akan membantu mencampur bagian yang mengental dengan yang cair. Dilarang menggunakan microwave dalam menghangatkan ASI. ASI beku yang telah dicairkan Jika ASI beku telah dicairkan, masih bisa disimpan dalam kulkas biasa sampai 24 jam ke depan. Tetapi ASI tidak boleh dibekukan lagi. Tidak diketahui dengan pasti apakah ASI yang tersisa di botol aman dan masih baik kondisinya untuk diminumkan lagi kepada bayi pada saat minum berikutnya. Untuk mencegah hal ini, sebaiknya ASI disimpan dalam botol yang tidak terlalu besar, jadi mengurangi sisa ASI yang tidak terminum. Menurut buku THE BREASTFEEDING ANSWER BOOK, halaman 228, beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kandungan zat dalam ASI yang tak dikenal untuk melindungi ASI dari bakteri dan kontaminasi. Sebuah studi, Barger & Bull 1987, mnemukan secara statistik bahwa tidak ada perbedaan kadar bakteri dalam ASI yang telah disimpan 10 jam dalam suhu ruangan dengan ASI yang telah disimpan selama 10 jam. Bahkan sebuah penelitian lain, Pardou 1994, menemukan bahwa setelah 8 hari disimpan di kulkas ada kecenderungan ASI memiliki kadar bakteri yang lebih rendah dibanding saat setelah diperah atau dipompa. Sumber: diterjemahkan dari situs La Leche League ( http://www.lalecheleague.org )   Baca juga : Air Putih tidak Baik untuk Bayi Cara Menyimpan ASI yang Baik...

Read More

Cara Menyimpan ASI yang Baik

Posted by on Apr 15, 2015 in Artikel, Bekasi, Blog, Kesehatan, Lokasi | 0 comments

Cara Menyimpan ASI yang Baik

Panduan Menyimpan ASI ASI yang dipompa haruslah disimpan secara benar untuk memaksimalkan kandungan nutrisi dan kualitas yang terkandung di dalamnya. ASI sebenarnya memiliki kandungan anti-bakteri untuk mempertahankan kesegarannya. ASI yang baru dipompa pasti akan lebih segar dan memiliki kualitas yang baik. Informasi dibawah ini dihasilkan dari riset terkini dan berlaku bagi para ibu yang: Memiliki anak yang sehat dan lahir tidak premature (full-term babies) Menyimpan ASI untuk keperluan di dalam rumah (bukan untuk keperluan di RS) Mencuci tangannya sebelum memerah atau memompa Menggunakan wadah atau tempat penyimpanan ASI yang telah dibersihkan dengan air panas, sabun dan telah disiram dengan air bersih. Semua ASI yang disimpan harus diberi tanggal sesuai hari di saat ASI itu diperah atau dipompa. Menyimpan sekitar 60 – 120 ml per botol sangat disarankan untuk mengurangi sisa ASI. ASI yang disimpan di kulkas lebih besar kandungan anti-infeksinya disbanding ASI yang beku dari freezer. Masukkan ASI kedalam kulkas biasa dulu untuk merendahkan suhunya baru pindahkan ke dalam freezer.       ASI bisa disimpan : Dalam suhu ruangan (19-22°C) sampai 10 jam lamanya Di dalam kulkas (0-4°C) sampai 8 hari (usahakan di bagian paling belakang dari kulkas) sampai 8 hari lamanya Di dalam freezer (dengan suhu bervariasi tergantung berapa sering pintu freezer dibuka dan ditutup) sampai 2 minggu Di dalam freezer dengan bagian khusus yang memiliki tutup terpisah dari pintu freezer (dengan suhu bervariasi tergantung berapa sering pintu freezer dibuka dan ditutup) sampai 3-4 bulan. Di dalam freezer yang sangat dingin (-17 sampai -8°C) sampai 6 bulan lamanya   Tempat untuk menyimpan ASI   Baca juga : Air Putih tidak Baik untuk Bayi Mengakali Anak yang Susah Makan    ...

Read More

Air Putih Tidak Baik Untuk Bayi

Posted by on Apr 15, 2015 in Artikel, Bekasi, Blog, Kesehatan, Lokasi | 0 comments

Air Putih Tidak Baik Untuk Bayi

Kendati merupakan minuman wajib bagi orang dewasa, air putih ternyata bisa berbahaya bagi bayi. Jika Anda memiliki bayi di bawah usia enam bulan berhati-hatilah. Pasalnya, air minum dapat menyebabkan intoksikasi atau keracunan. “Biarpun usianya masih sangat belia, bayi telah mempunyai refleks haus secara utuh atau keinginan untuk minum,” kata Dr Jennifer Anders dari Pusat Anak-anak John Hopkins, Baltimore. Yang benar adalah memberikan ASI atau susu formula ketika mereka haus.       Menurut Anders, ginjal bayi di bawah enam bulan belum siap. Sehingga jika terlalu banyak menerima air, secara otomatis akan melepaskan sodium bersama kelebihan air itu. Sementara kehilangan sodium dapat mempengaruhi aktifitas otak. Hal ini juga merupakan gejala keracunan air, yaitu lekas marah, kantuk, dan masalah kejiwaan lainya. Adapun gejala lainnya adalah suhu tubuh rendah, muka bengkak atau membesar, dan kejang-kejang. Seringkali beberapa gejala awal itu tak kentara, maka kejang-kejang bisa jadi petunjuk pertama untuk para orang tua. Segera larikan anak ke rumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis sehingga dampak kejang-kejang tidak akan permanen. Anders juga menganjurkan, selain air putih, ada baiknya jika para orangtua menghindari pemakaian susu formula yang terlalu cair atau minuman kesehatan anak-anak yang mengandung elektrolit. Namun demikian, dalam beberapa kasus pemeberian sedikit air juga diperlukan kepada bayi yang lebih tua. Misalnya untuk sembelit atau cuaca panas. Tetap saja, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter anak. Sebab, lanjut Anders, ada takaran untuk memberikan air putih, mungkin hanya sekitar satu sendok makan saja.   Baca juga :   Memilih Obat Batuk untuk Anak Kalimat yang Tidak Boleh untuk Anak Cara Menyimpan ASI yang Baik    ...

Read More

Kalimat yang Tidak Boleh untuk Anak (2)

Posted by on Mar 11, 2015 in Blog, Pendidikan | 0 comments

Kalimat yang Tidak Boleh untuk Anak (2)

Dear Mom, mungkin artikel berikut bisa membantu :   Keempat : “Tante minta ciumnya, dong!” Anda tidak akan mau mencium orang lain secara otomatis saat ada yang bilang mereka minta cium Anda, kan? Begitu pun anak-anak. Hormati wilayah personal mereka dan beri kontrol mengenai siapa yang boleh mendapat afeksi mereka. Kelima : “Kenapa kamu enggak bisa kayak…” Membandingkan anak dengan anak lain, entah itu saudara kandungnya atau teman sekolahnya sama artinya Anda menanamkan bibit kerusakan di dalamnya. Merasa lemah dan tidak baik bisa memicu anak yang akan “meledak” di suatu waktu dan pertikaian di antara saudara. Ketimbang membuat mereka merasa rendah diri dibanding kelebihan orang lain, pujilah ia akan hal-hal baik yang ia bisa, tawarkan bantuan di area yang mereka kurang kuasai. Keenam : “Kamu nakal sekali!” Adalah hal yang sangat buruk untuk melabeli anak dengan “nakal/badung/bandel”, karena mereka akan berpikir itu adalah jati diri mereka dan berusaha untuk membenarkan Anda. Coba tunjukkan ketidaksukaan Anda akan sikap yang tak baik, jangan anaknya. Ketujuh : “Cepetan, dong! Mama tinggal, Ya!” Menanamkan isu bahwa Anda akan meninggalkannya bukan hal yang disarankan. Anak tak tahu apakah Anda benar-benar akan meninggalkannya atau tidak. Meski sebenarnya Anda hanya bercanda atau menakut-nakuti, alias ancaman kosong. Bersabarlah menunggunya dan sadari anak-anak amat mudah teralihkan pikirannya, dan cari cara lain untuk mempercepat persiapannya beranjak.   Baca juga : Kalimat yang Tidak Boleh buat Anak Mengakali Anak Susah...

Read More

Kalimat yang Tidak Boleh untuk Anak

Posted by on Mar 11, 2015 in Blog, Pendidikan | 0 comments

Kalimat yang Tidak Boleh untuk Anak

Dear Mom, mungkin artikel berikut bisa membantu :   Ada saat-saat tertentu ketika orang tua merasa tak sabaran menghadapi anaknya. Marah dan frustasi kadang memicu ucapan yang tak diperhitungkan dengan seksama. Awalnya kita pikir kata-kata itu akan menghilang begitu saja dan tak berpengaruh pada anak, toh, orang tua dari kita sendiri mengucap kata-kata itu ke kita. Jangan salah, ada kata-kata yang seringkali memiliki dampak besar pada emosi dan psikologis anak. Ada beberapa kalimat yang sebaiknya dihindari saat berbicara dengan anak. Apa saja? Pertama : “Kamu seharusnya malu sama diri sendiri” Kata “malu” adalah emosi yang destruktif dan seringkali memicu rasa bersalah yang sangat mendalam. Meski setiap anak bertingkah nakal, amat penting bagi mereka untuk mengerti mengapa tingkah mereka itu salah dan ia harus paham bahwa adalah hal yang wajar bagi setiap manusia untuk melakukan kesalahan, dan yang terpenting adalah kita semua belajar dari kesalahan itu.   Kedua : “Karena Mama bilang begitu!” Anak-anak merespon pada aturan saat mereka melihat alasan di baliknya. Habiskan beberapa detik untuk membantu mereka mengerti mengapa, agar mereka bisa melihat Anda sebagai figur otoritas yang pantas untuk dihormati ketimbang sebagai diktator.   Ketiga : “Mama enggak peduli kamu mau apa!” Kadang, saat ada lebih dari 1 anak yang harus Anda puaskan, sulit untuk bisa memberikan mereka semua apa yang mereka mau. Kadang, saat mereka merengek di saat bersamaan karena meminta hal-hal yang berbeda, tanpa sadar, banyak orang mengatakan kata-kata semacam ini kepada anaknya. Namun, hal ini bisa membekas di pikiran anak-anak, karena mereka akan berpikir bahwa Anda tak peduli pada kebutuhannya, dan imbasnya mereka bisa tidak menghormati Anda. Ingat, menghadapi emosi mereka tidak berarti menyerah dan memenuhi permintaan mereka.   Keempat   Baca juga : Mengapa Anak Berperilaku Buruk ? Kalimat yang Tidak Boleh buat Anak Curhat untuk Anak itu Perlu  ...

Read More

Mengapa Anak Berperilaku Buruk ?

Posted by on Jun 14, 2014 in Artikel, Bekasi, Blog, Kranji, Lokasi, Pendidikan, Pondok Kopi | 0 comments

Mengapa Anak Berperilaku Buruk ?

Dear Mom, mungkin artikel berikut bisa membantu :   Mengapa Anak Berperilaku Buruk? Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya. Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda. Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun. Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun. “Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar,” kata Lorber. Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak. Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk. Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik. Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. “Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting,” katanya. TRIBUNNEWS.COM   Baca juga : Memilih Obat Batuk untuk Anak Kalimat yang Tidak Boleh buat Anak    ...

Read More
CLOSE
CLOSE