Talk Show Bersama Ibu Wury Hapsari

Talk Show Bersama Ibu Wury Hapsari

Pola asuh yang baik akan menghasilkan anak dengan dasar kepribadian yang kuat, tidak mudah putus asa serta tangguh dalam menghadapi tekanan kehidupan. Sebaliknya pola asuh yang tidak baik menyebabkan anak rentan terhadap tekanan atau stres dan mudah terjerumus pada hal-hal yang bersifat negatif.

Continue reading →

Cara Menyimpan ASI yang Baik – 2

Cara Menyimpan ASI yang Baik – 2

Tempat untuk menyimpan ASI

ASI yang disimpan di kulkas atau ASI beku dapat ditempatkan pada:

  • Plastik dengan permukaan keras (seperti botol bayi) atau wadah yang terbuat dari gelas dengan tutup yang rapat.
  • Kantong ASI yang didesain khusus untuk penyimpanan dalam freezer.

Catatan: botol susu sekali pakai tidak direkomendasikan untuk dipakai.

Bagiamana cara menghangatkan ASI?

  • Rendam atau aliri botol dengan air panas.
  • ASI jangan dipanaskan sampai mendidih
  • Perlahan kocok-kocok ASI sebelum mengukur suhunya. Mengocok secara perlahan juga akan membantu mencampur bagian yang mengental dengan yang cair.
  • Dilarang menggunakan microwave dalam menghangatkan ASI.

ASI beku yang telah dicairkan

Jika ASI beku telah dicairkan, masih bisa disimpan dalam kulkas biasa sampai 24 jam ke depan. Tetapi ASI tidak boleh dibekukan lagi. Tidak diketahui dengan pasti apakah ASI yang tersisa di botol aman dan masih baik kondisinya untuk diminumkan lagi kepada bayi pada saat minum berikutnya. Untuk mencegah hal ini, sebaiknya ASI disimpan dalam botol yang tidak terlalu besar, jadi mengurangi sisa ASI yang tidak terminum.

Menurut buku THE BREASTFEEDING ANSWER BOOK, halaman 228, beberapa penelitian menunjukkan bahwa terdapat kandungan zat dalam ASI yang tak dikenal untuk melindungi ASI dari bakteri dan kontaminasi. Sebuah studi, Barger & Bull 1987, mnemukan secara statistik bahwa tidak ada perbedaan kadar bakteri dalam ASI yang telah disimpan 10 jam dalam suhu ruangan dengan ASI yang telah disimpan selama 10 jam. Bahkan sebuah penelitian lain, Pardou 1994, menemukan bahwa setelah 8 hari disimpan di kulkas ada kecenderungan ASI memiliki kadar bakteri yang lebih rendah dibanding saat setelah diperah atau dipompa.

Sumber: diterjemahkan dari situs La Leche League ( http://www.lalecheleague.org )

 

Baca juga :

Air Putih tidak Baik untuk Bayi

Cara Menyimpan ASI yang Baik

 

Cara Menyimpan ASI yang Baik

Cara Menyimpan ASI yang Baik

Panduan Menyimpan ASI

ASI yang dipompa haruslah disimpan secara benar untuk memaksimalkan kandungan nutrisi dan kualitas yang terkandung di dalamnya. ASI sebenarnya memiliki kandungan anti-bakteri untuk mempertahankan kesegarannya. ASI yang baru dipompa pasti akan lebih segar dan memiliki kualitas yang baik.

Informasi dibawah ini dihasilkan dari riset terkini dan berlaku bagi para ibu yang:

  • Memiliki anak yang sehat dan lahir tidak premature (full-term babies)
  • Menyimpan ASI untuk keperluan di dalam rumah (bukan untuk keperluan di RS)
  • Mencuci tangannya sebelum memerah atau memompa
  • Menggunakan wadah atau tempat penyimpanan ASI yang telah dibersihkan dengan air panas, sabun dan telah disiram dengan air bersih.
  • Semua ASI yang disimpan harus diberi tanggal sesuai hari di saat ASI itu diperah atau dipompa.

Menyimpan sekitar 60 – 120 ml per botol sangat disarankan untuk mengurangi sisa ASI. ASI yang disimpan di kulkas lebih besar kandungan anti-infeksinya disbanding ASI yang beku dari freezer. Masukkan ASI kedalam kulkas biasa dulu untuk merendahkan suhunya baru pindahkan ke dalam freezer.

 
 

Cara menyimpan ASI dengan baik

 

ASI bisa disimpan :

  • Dalam suhu ruangan (19-22°C) sampai 10 jam lamanya
  • Di dalam kulkas (0-4°C) sampai 8 hari (usahakan di bagian paling belakang dari kulkas) sampai 8 hari lamanya
  • Di dalam freezer (dengan suhu bervariasi tergantung berapa sering pintu freezer dibuka dan ditutup) sampai 2 minggu
  • Di dalam freezer dengan bagian khusus yang memiliki tutup terpisah dari pintu freezer (dengan suhu bervariasi tergantung berapa sering pintu freezer dibuka dan ditutup) sampai 3-4 bulan.
  • Di dalam freezer yang sangat dingin (-17 sampai -8°C) sampai 6 bulan lamanya

 

Tempat untuk menyimpan ASI

 

Baca juga :

Air Putih tidak Baik untuk Bayi

Mengakali Anak yang Susah Makan

 

 

 

Air Putih Tidak Baik Untuk Bayi

Air Putih Tidak Baik Untuk Bayi

Kendati merupakan minuman wajib bagi orang dewasa, air putih ternyata bisa berbahaya bagi bayi. Jika Anda memiliki bayi di bawah usia enam bulan berhati-hatilah.

Pasalnya, air minum dapat menyebabkan intoksikasi atau keracunan.
“Biarpun usianya masih sangat belia, bayi telah mempunyai refleks haus secara utuh atau keinginan untuk minum,” kata Dr Jennifer Anders dari Pusat Anak-anak John Hopkins, Baltimore. Yang benar adalah memberikan ASI atau susu formula ketika mereka haus.

 

Air putih tidak baik untuk bayi

 

 

Menurut Anders, ginjal bayi di bawah enam bulan belum siap. Sehingga jika terlalu banyak menerima air, secara otomatis akan melepaskan sodium bersama kelebihan air itu.

Sementara kehilangan sodium dapat mempengaruhi aktifitas otak. Hal ini juga merupakan gejala keracunan air, yaitu lekas marah, kantuk, dan masalah kejiwaan lainya.

Adapun gejala lainnya adalah suhu tubuh rendah, muka bengkak atau membesar, dan kejang-kejang. Seringkali beberapa gejala awal itu tak kentara, maka kejang-kejang bisa jadi petunjuk pertama untuk para orang tua.
Segera larikan anak ke rumah sakit atau puskesmas untuk mendapatkan perawatan medis sehingga dampak kejang-kejang tidak akan permanen.

Anders juga menganjurkan, selain air putih, ada baiknya jika para orangtua menghindari pemakaian susu formula yang terlalu cair atau minuman kesehatan anak-anak yang mengandung elektrolit.

Namun demikian, dalam beberapa kasus pemeberian sedikit air juga diperlukan kepada bayi yang lebih tua. Misalnya untuk sembelit atau cuaca panas.

Tetap saja, konsultasikan terlebih dahulu kepada dokter anak. Sebab, lanjut Anders, ada takaran untuk memberikan air putih, mungkin hanya sekitar satu sendok makan saja.

 

Baca juga :

 

Memilih Obat Batuk untuk Anak

Kalimat yang Tidak Boleh untuk Anak

Cara Menyimpan ASI yang Baik

 

 

 

Mengapa Anak Berperilaku Buruk ?

Mengapa Anak Berperilaku Buruk ?

Dear Mom,

mungkin artikel berikut bisa membantu :

 

Mengapa Anak Berperilaku Buruk?

Perilaku agresif terkadang lazim ditemui pada anak-anak usia dibawah lima tahun (balita). Namun jika perilaku tersebut masih bertahan sampai ia bersekolah TK atau SD, hhhm bisa jadi ada yang salah dengan pola asuh ibunya.

Para peneliti dari Universitas of Minnesota, Amerika Serikat, menyebutkan pada umumnya pembawaan bayi adalah tenang. Tetapi pada satu masa di awal usia balita, anak bisa punya kebiasaan suka memukul. Sifat agresif itu mencapai puncaknya saat balita berusia 2,5 tahun, kemudian mereda.

Menurut teori, balita berusia 4 tahun lebih bisa dikendalikan dibanding balita usia 2 tahun, dan anak berusia 6 tahun berperilaku lebih baik dibanding rata-rata anak usia 4 tahun.

Namun pada kenyataannya ada anak-anak yang berperilaku sulit diatur. Menurut Michael Lorber, peneliti yang melakukan riset ini, ada sebagian anak yang tetap berperilaku agresif sampai ia berusia 6 tahun.

“Anak yang masih bersikap agresif di usia TK atau kelas I sekolah dasar berpotensi besar membawa sikap itu sampai besar,” kata Lorber.

Padahal, literatur menyatakan anak yang agresif, seperti suka memukul atau melempar benda saat tantrum, cenderung bermasalah di sekolah, beresiko tinggi depresi, bahkan suka melakukan kekerasan pada pasangannya kelak.

Dalam penelitian yang dilakukan Lorber terhadap 267 ibu dan anak, diketahui bayi usia 3 bulan pun sudah bisa meniru. Jika sejak bayi si ibu bersikap kurang sabar atau suka mengomel, besar kemungkinan bayinya akan tumbuh menjadi anak berperilaku buruk.

Sikap agresif anak juga bisa timbul dari pengaruh sekelilingnya, seperti tayangan televisi atau video games. Namun, Lorber menjelaskan bahwa pola asuh bukan faktor tunggal dalam pembentukan perilaku anak karena ada juga pengaruh faktor genetik.

Walau begitu, ia menyarankan agar orangtua memberi contoh perilaku yang baik pada anaknya. “Mulailah sedini mungkin. Menjadi orangtua yang sensitif dan merespon kebutuhan sosial dan emosional anak sangatlah penting,” katanya.

TRIBUNNEWS.COM

 

Baca juga :

Memilih Obat Batuk untuk Anak

Kalimat yang Tidak Boleh buat Anak

 

 

 

Memilih Obat Batuk untuk Anak

Memilih Obat Batuk untuk Anak

Musim pancaroba dapat menyebabkan munculnya berbagai penyakit seperti batuk dan pilek. Nah, jika anak-anak terjangkit penyakit ini, orang tua harus bisa mengenali gejala penyakit batuk dan memilih obat batuk yang tepat.

Tubuh sebenarnya sudah berusaha untuk beradaptasi dengan perubahan udara dan temperature di sekitar. Namun, faktor lingkungan seperti cuaca dan angin tetap dapat mempercepat penyebaran penyakt menular yang dipicu virus dan bakteri. Maka musim pancaroba yang disertai perubahan udara dan temperatur seperti saat ini harus diwaspadai karena menimbulkan berbagai penyakit.

Beberapa faktor pemanasan global (global warming) di mana suhu rata-rata atmosfer, laut dan daratan bumi meningkat juga turut berpengaruh terhadap penyebaran penyakit. Faktor ini, menurut situs CBSNews memungkinkan bakteri penyebab penyakit, virus dan jamur berpindah ke daerah baru yang dapat membahayakan spesies yang beragam, termasuk manusia.

 

Jenis-Jenis Batuk

Salah satu penyakit yang akrab di musim pancaroba adalah batuk dan pilek. Batuk sebetulnya tidak selalu harus dimusuhi karena merupakan salah satu mekanisme pertahanan tubuh. Udara yang keluar akibat batuk, misalnya, justru akan membuat segala sesuaut yang menghambat di saluran napas terbuang keluar. Terutama benda asing, cairan, atau lendir, sehingga saluran napas jadi bersih.

Oleh karena itu, batuk terkadang justru diperlukan untuk membuang semua yang menyumbat saluran napas. Batuk baru digolongkan berbahaya jika benda yang menghambat saluran napas tidak bisa dikeluarkan lewat mekanisme batuk.

Namun ketika anggota keluarga terkena batuk, anda tak boleh lengah. Sebaliknya, anda harus memperhatikan penyebab batuk dan dalam keadaan bagaimana batuk terjadi. Pasalnya, selain batuk biasa yang masih dalam batas toleransi, ada juga batuk yang merupakan gejala penyakit. Kalau batuknya sangat sering, misalnya terjadi siang malam, bisa jadi ini merupakan gejala penyakit batuk yang harus diobati. Selain itu, terdapat batuk yang disebabkan oleh adanya kelainan pada tubuh. Misalnya, batuk akibat adanya rangsangan seperti alergi karena debu atau udara kotor, atau karena bau-bauan yang menyengat. Batuk bisa juga terjadi akibat kelainan atau penyakit yang terjadi di saluran pernapasan. Contohnya TBC, penyempitan saluran napas, atau penyakit paru yang lain.

Pada bayi, batuk bisa merupakan gejala alergi, baik alergi susu maupun debu. Bayi juga bisa menghalami batuk karena virus dan adanya aliran balik isi lambung kea rah jalan napas (gastoesophageal reflux). Batuk semacam ini biasanya terjadi pada anak yang mempunyai masalah pencernaan.

 

Pilih Obat Yang Tepat

Jenis batuk yang beragam mengakibatkan penanganan batuk harus disesuaikan dengn penyebabnya. Apakah alergi, infeksi virus, atau kelainan fisiologis lain? Untuk pertolongan pertama, pemberian obat bebas boleh-boleh saja. Namun, jika anak sudah batuk berdahak, meski hanya sekali, sebaiknya Anda segera membawa buah hati ke dokter untuk membedakan apakah hanya flu biasa atau ada faktor alergi.

Yang tak kalah penting adalah mengenali jenis batuk, apakah batuk kering atau batuk berdahak. Dengan mengetahui jenis batuk, kita bisa memberli obat batuk secara tepat dan ber konsultasi dengan apoteker.

Perhatikan juga komposisi obat batuk atau apakah obat batuk itu mengandung komponen lain yang bisa mengatasi penyakit selain batuk. Pasalnya, saat ini obat batuk kerap dikpombinasikan dengan obat lain, seperti antihistamin dan analgesic.

 

Jenis obat batuk yang beredar di pasaran saat ini adalah :

– antitusif (menekan batuk)

– ekspektoran (mengeluarkan dahak)

– mukolitik (mengencerkan dahak).

 

Beberapa zat yang biasanya terdapat dalam obat batuk diantaranya antitusif untuk menekan batuk dan dekongestan (melegakan jalan napas), pengencer lendir, atau kombinasi. Dekongestan umumnya membantu melebarkan saluran napas atas dengan jalan mengurangi oedema (pembengkakan saluran napas di hidung).

 Nah, sebaiknya anda berhati-hati ketika memakai obat batuk yang mengandung pengencer lender. Khususnya untuk anak kecil yang otot-otot pernapasannya masih lemah. Selain tidak baik jika dipakai terlalu lama, lendir yang mengencer malah akan memenuhi saluran napas sehingga anak mengalami sesak napas.

 Oleh karena itu, sebelum membeli obat batuk di toko obat atau opotek, pilih obat yang sesuai dengan batuk yang dialami anak. Pertama, sebutkan keluhan sesuai usia. Yang juga harus diperhitungkan, mana yang lebih idutamakan, apakah batuknya atau mengencerkan lendirnya. Terkadang, batuk justru tidak boleh ditekan, karena kalau ditekan dan anak tidak batuk, bisa-bisa anak malah sesak karena lendir. Nah, jika anak tak juga sembuh selewat seminggu, sebaiknya segera pergi ke dokter untuk dicari penyebab batuknya.

 

Sumber ://Tabloid Nova 1267/XXV

Salam dari kami

Green Kids Daycare, 3 Juni 2014

 

Baca juga :

 

Kalimat yang Tidak Boleh buat Anak

 

Mengapa Anak Berperilaku Buruk ?

 

 

Mengakali Anak Susah Makan | Green Kids Bekasi

Mengakali Anak Susah Makan | Green Kids Bekasi

ANAK susah makan atau pemilih (picky eaters) terkadang bikin pusing. Belum lagi kekhawatiran tumbuh kembang si kecil terganggu karena kurang gizi. Selain dituntut kesabaran ekstra, berikut beberapa trik mengakali anak yang susah makan:

Cermati kebiasaan anak

Orangtua bertanggung jawab penuh atas pemberian makan anak, termasuk apa, kapan dan di mana anak ingin makan? Sejak dini, cobalah membiasakan anak untuk ikut makan bersama keluarga mengelilingi meja makan. Ciptakan jadwal makan bersama sebagai momen yang hangat dan menyenangkan. Namun, jika ternyata anak sulit menjaga sikap saat makan, jangan panik atau marah-marah. Anak bakal trauma dan menolak makan. Upayakan jalan yang paling membuat anak nyaman dan mau menyantap makanannya.

Tertibkan pemberian makan dan camilan

Jadwal makan anak umumnya terdiri atas tiga kali makan besar dan tiga kali camilan. Untuk balita dan anak usia prasekolah biasanya perlu diberi makan setiap 2-3 jam. Perlu diingat, jangan berlebihan. Misalnya, antara jam makan besar dan ngemil jangan memberikan camilan apa pun selain air putih. Hal ini justru akan membuat anak cepat lapar.

Variasikan menu bergizi

Pastikan untuk memasukkan minimal satu atau dua unsur makanan sehat dan bergizi seperti sayuran, ikan dan telur. Jangan menyerah untuk mencoba menawarkan makanan bergizi yang tidak disukai anak. Ingat, anak perlu pembiasaan. Cermati juga menu yang anak sukai dan tawarkan variasi jenis maupun bentuknya agar anak tertarik dan tidak bosan. Misalnya, jika anak tampak bosan dengan wortel yang disup, cobalah mengkreasikannya menjadi stik wortel. Jika dulunya anak tidak suka dengan tim labu misalnya, cobalah menghadirkannya kembali di meja makan dalam bentuk kolak. Siapa tahu dia jadi suka? Jadilah ibu yang kreatif!

Menu alami, praktis dan porsi seimbang

Yang dimaksud alami di sini adalah usahakan membuat menu yang tidak terlalu berbumbu atau dimasak berlebih (overcooked) sehingga rasa alami dan nutrisinya banyak yang hilang. Bentuknya juga jangan terlalu besar seperti burger yang menyebabkan kerepotan menyantapnya. Selain itu, pastikan porsinya tidak berlebihan. Bila perlu tawarkan dalam porsi kecil. Hal ini untuk mencegah anak menjadi obesitas.

Libatkan anak berbelanja

Ajaklah anak untuk ikut berbelanja bahan makanan di supermarket, termasuk merencanakan apa saja yang hendak dibeli. Jangan lupa, prioritaskan daftar makanan dan minuman sehat. Saat berbelanja, Anda juga dapat menguji kemampuan anak mengambil keputusan. Misalnya: kamu pilih apel atau anggur? Selain itu, jika Anda suka berkebun, libatkan anak untuk ikut menanam sayuran atau buah di pekarangan rumah. Anak akan suka menyantap hasil jerih payahnya itu.

Jangan iming-imingi hadiah

Hindari menawarkan gula-gula atau mentraktir jajan sebagai hadiah jika anak mau menghabiskan makan. Ingat, pola makan akan dibawa seumur hidup, jangan sesekali memasukkan unsur gimmick atau reward dalam mendidik pola makan anak. Hindari pemaksaan. Jika dengan segala upaya ternyata anak tetap menolak menyantap makanan yang disuguhkan padanya, jangan memaksa atau menawarkan makanan lain. Tak masalah anak tidak makan sampai jadwal makan lain. Tak masalah anak tidak makan sampai jadwal makan atau ngemil berikutnya, asalkan tidak lebih dari 2-3 jam.

(dari tabloid nova)

 

Curhat untuk Anak itu Perlu

Curhat untuk Anak itu Perlu

Curhat merupakan suatu ekspresi untuk menyampaikan perasaan. Curhat itu juga diperlukan oleh anak kita yang mulai beranjak dewasa. Walaupun bagi beberapa orang curhat dianggap sebagai keluhan atau rasa pesimistis, namun bukan berarti berkeluh kesah itu merugikan dan negatif.

Justru menjadi suatu hal yang mengkhawatirkan apabila buah hati kita tidak pernah curhat kepada kita sebagai orang tuanya. Curhat itu perlu dilakukan oleh anak kita yang mulai beranjak dewasa dan semakin banyak bersosialisasi. Curhat merupakan suatu cara mengekspresikan perasaan yang merupakan bagian dari komunikasi dan komunikasi adalah jembatan penghubung antara orang tua dan anak agar hubungan keduanya berjalan dengan harmonis.

Tapi yang harus diingat anak-anak memiliki wawasan dan kemampuan berpikir yang yang masih terbatas. Untuk itu orang tua pada saat sang anak ingin melakukan curhat, lakukanlah dengan pendekatan yang baik. Cari waktu yang tepat dan lakukan berdua saja, jangan bertanya tentang perasaan anak di depan saudaranya. Sebab bila hal ini dilakukan, akan membuatnya merasa malu dan dan semakin enggan untuk bercerita.

 

Baca juga :

Alasan Tidak Boleh Memukul Anak

Pijat untuk Bayi Anda

Kerak pada Kulit Kepala Bayi

 

 

Pijat untuk Bayi Anda

Pijat untuk Bayi Anda

Pijat bayi adalah salah satu kegiatan bermanfaat dari sekian banyak aktifitas yang dapat dilakukan oleh orang tua bersama bayi. Manfaatnya antara lain untuk menguatkan otot,membantu pertumbuhan, mengurangi kebiasaan menangis, menaikkan berat badan, serta membuat bayi tenang dan mudah tidur. Aktifitas ini dipercaya juga sebagi medium eye contact antara si ibu dengan bayi untuk mengurangi level stress hormon bayi dan membantu memudahkan bayi untuk buang air besar.

Untuk menyempurnakan proses dalam pijat bayi ini biasanya dipergunakan minyak telon yang dikenal sebagai salah satu produk perawatan bayi sejak dulu. Jenis minyak ini kaya akan ramuan tradisional dari bahan bahan alami. Untuk pijat bayi ini lebih disarankan pemijatan dilakukan oleh ibu sendiri, karena sentuhan-sentuhan fisik secara berkala dan berkelanjutan yang dilakukan oleh ibu dan bayi dapat membantu pembentukan struktur dasar otak yang sehat dan mengoptimalkan ikatan emosi antara bayi dengan Ibunya.

Tuangkan minyak telon secukupnya ke telapak tangan Anda dan usapkan dengan lembut pada perut, dada, punggung, dan telapak kaki bayi setiap selesai mandi atau pada saaat diperlukan. Efek hangat dari pemakaian minyak telon dapat membantu melegakan pernafasan dan aromanya dapat memberikan rasa tenang. Perhatikan juga kebersihan sarana dan tempat memijat termasuk pula kebersihan tangan Ibu dari benda-benda yang dapat mengiritasi kulit bayi. Pada saat pemijatan, disarankan pula sambil melakukan pijat bayi sambil mendengarkan musik atau bisa juga senandung dari Ibu si bayi.

Selamat mencoba ………….

 

 

 

Baca juga :

Alasan Tidak Boleh Memukul Anak

Kerak Kepala Pada Bayi

 

 

Inilah Alasan Orang Tua Tidak Boleh Memukul Anak

Inilah Alasan Orang Tua Tidak Boleh Memukul Anak

Kekerasan terhadap anak yang dilakukan orang dewasa adalah sebuah perbuatan melanggar hukum. Di 113 negara, sekolah juga dilarang memberikan hukuman dengan memukul.

Meskipun saat ini sudah jarang terjadi, tetap masih ada saja orangtua yang memukul jika anaknya membuat kesal. Padahal tindakan itu sebaiknya dihindari karena bisa berefek buruk pada anak.

semua orang berhak mendapat perlindungan atas kebebasan fisik mereka juga termasuk anak-anak, cukup banyak psikolog dan sosiolog yang merekomendasikan agar orangtua tidak memukul saat anak melakukan hal yang tidak baik atau mengesalkan.

 

penitipan-anak-di-bekasi

 

 

Berikut ini alasan kenapa Anda sebaiknya tidak memukul anak:

1. Memukul anak malah mengajarkan mereka untuk menjadi orang yang suka memukul. Cukup banyak penelitian yang menunjukkan bahwa anak yang sering dipukul memiliki perilaku agresif dan menyimpang saat mereka remaja dan dewasa.

Anak-anak secara alami belajar bagaimana harus bersikap melalui pengamatan dan meniru orangtua mereka. Makanya jika Anda suka memukul, saat dewasa nanti, mereka pun akan menganggap apa yang Anda lakukan itu memang boleh dilakoni.

2. Anak-anak berperilaku tidak baik biasanya karena orangtuanya atau orang yang mengasuhnya melupakan kebutuhannya diantaranya, tidur yang cukup, makanan bernutrisi, udara segar dan kebebasan mengeksperikan diri untuk bereksplorasi.

3. Hukuman malah membuat anak tidak belajar bagaimana seharusnya menyelesaikan konflik dengan cara yang efektif dan lebih manusiawi. Anak yang dihukum jadi memendam perasaan marah dan dendam. Anak yang dipukul orangtuanya pun jadi tidak bisa belajar bagaimana menghadapi situasi yang serupa di masa depan.

4. Hukuman untuk anak dengan kekerasan bisa mengganggu ikatan antara orangtua dan anak. Ikatan yang kuat seharusnya didasari atas cinta dan saling menghargai. Jika Anda memukul anak, dan si anak kemudian menuruti perkataan Anda, apa yang dilakukannya itu hanya karena dia takut. Sikap itu pun tidak akan bertahan lama karena pada akhirnya anak akan memberontak lagi.

5. Anak yang mudah marah dan frustasi tidaklah terbentuk dari dalam dirinya. Kemarahan tersebut sudah terakumulasi sejak lama, sejak orangtuanya mulai memberinya hukuman dengan kekerasan. Hukuman itu memang pada awalnya sukses membuat anak bersikap baik. Namun, saat si anak beranjak remaja dan menjadi dewasa, hukuman itu malah menjadi buah simalakama.

6. Anak yang dipukul di bagian sensitifnya, bisa membuat anak mengasosiasikan hal itu antara rasa sakit dan kenikmatan seksual. Pemikiran tersebut akan berdampak buruk, terutama jika anak tidak mendapat banyak perhatian dari orangtuanya, kecuali hanya saat dihukum. Anak yang mengalami hal tersebut akan tumbuh menjadi anak yang kurang percaya diri. Mereka percaya, mereka tidak layak mendapatkan hal yang lebih baik.

7. Hukuman fisik bisa membuat anak menangkap pesan yang salah yaitu ‘tindakan itu dibenarkan’. Mereka merasa memukul orang lain yang lebih kecil dari mereka dan kurang memiliki kekuatan, memang boleh. Saat dewasa, anak ini akan tumbuh menjadi orang yang kurang memiliki kasih sayang pada orang lain dan takut pada orang yang lebih kuat dari mereka.

8. Berkaca dari orangtuanya yang suka memukul, anak belajar kalau memukul merupakan cara yang bisa dilakukan untuk mengeksperikan perasaan dan menyelesaikan masalah. Oleh karena itu, sungguh memukul anak bukanlah cara yang tepat untuk mendidik mereka atau membuat mereka jadi orang yang lebih baik.

 

Baca juga :

Kerak pada Kulit Kepala Bayi

Lokasi Green Kids Bekasi

Pijat untuk Bayi Anda

 

 

CLOSE
CLOSE